Rabu, 19 Desember 2012

CERPEN


ALPHABETA


Bel tanda dimulainya pelajaran bergema di semua sudut ruangan kelas SMA di pinggir kota kendal. Seketika itu pula pelajaran di masing-masing kelas dimulai.
Bu Titin tengah menuliskan sebuah puisi di papan tulis ketika seorang anak dengan kemeja lusuh yang dikeluarkan dari celananya mengetuk pintu kelas. Bu Titin menoleh padanya.
“Lagi-lagi kamu terlambat masuk kelas, sudah sana duduk”. Tanpa berkata apapun, anak itu berbalik ke mejanya. Sebelum pelajaran itu usai, lagi-lagi pintu kelas di ketuk. Seorang guru BK masuk dan berbicara sebentar dengan Bu Titin. Kemudian ia memanggil sebuah nama, “Alphabeta”. Si Anak berbaju tak rapi tadi berdiri dan berjalan mengikuti langkah Sang Guru keluar dari kelas.
Samar-samar Bu Titin mendengar pembicaraan mereka tentang pembolosan dan berbagai pelanggaran aturan yang dilakukan Alpha. Bu Titin tak mendengar sepatah kata maupun pembelaan diri dari mulut Alpha. Ia pun terheran-heran dalam hatinya.
Alpha kembali ke mejanya. Perlahan-lahan Bu Titin menghampirinya. Sambil memegang pundak Alpha, ia berkata:”Kalau kamu punya masalah bicaralah pada ibu. Mungkin ada yang Ibu bisa lakukan untukmu”. Bu Titin menunggu beberapa lama namun setelah tak ada sepatah katapun yang keluar, ia meneruskan perkataannya.
“Kau punya sesuatu yang besar dalam dirimu, Ibu percaya itu, kau hanya harus membiarkannya tumbuh dan berkembang. Jika kau berhasil, kau memang pantas mendapatkannya karena kau juga sama dengan anak-anak yang lain. Ibu yakin kau pantas, Alpha...” Kata-kata yang bijaksana yang memang seharusnya keluar dari seorang guru seperti Bu Titin.

*******************************
***

Sebulan kemudian, sekolah menerima surat yang sangat mengejutkan semua guru termasuk Bu Titin. Sang kepala sekolahpun memanggil Bu Titin.
“Apakah Ibu pernah menyuruh salah seorang siswa Ibu untuk mengikuti lomba mengarang cerpen tingkat nasional?”ujarnya.
Dengan perasaan bingung ia berkata :”Maaf Pak, tapi...sepanjang pengetahuan saya, tidak pernah menyuruh siswa ikut lomba. Apalagi lomba mengarang..Kalau boleh saya tahu ada apa ya Pak?” ujar Bu Guru setengah penasaran.
“Saya menerima surat pemberitahuan dari panitia lomba tersebut yang memberitahukan bahwa salah satu siswa sekolah ini telah meraih juara satu lomba mengarang. Kalau Ibu ingin tahu, hasil karyanya telah dimuat di Suara Merdeka,”jelas Pak Kasek.
Bu Titin pun beranjak ke ruang guru dan segera meraih koran di mejanya yang baru sampai pagi itu. Lembar demi lembar ia membuka koran yang dimaksud. Keingintahuannya telah memicu hormon adrenalin Bu Titin sehingga degup jantungnya berpacu kencang. Akhirnya ia menemukannya, sebuah cerpen berjudul “Aku Ada dan Aku Pantas...”.
Ia membaca pelan-palen, seolah tidak mau ada satu kalimat pun yang terlewatkan. Betapa terkejut sekaligus haru Bu Titin. Bukan hanya isi cerpen yang menyentuh tentang perjuangan seorang anak yang “tak terlihat” untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia pantas ada di bumi ini, tapi juga tulisan di bawah cerpen itu.
“Untuk Bu Titin yang telah menyadarkanku bahwa aku ada dan aku pantas untuk ada di muka bumi ini”. Tak terasa bulir-bulir hangat meleleh membasahi pipinya. Bu Guru Titin yang bijak dan sabar itu, ternyata tidak mampu lagi menahan rasa harunya.
Segera ia mencari Alpha dan memeluknya dengan penuh rasa bangga. Bak seorang ibu yang telah lama merindukan dan berpisah dari anak kesayangannya.
“Selamat kamu sudah membuktikan pada semuanya dan juga pada dirimu sendiri bahwa kamu sama pantasnya dengan mereka untuk dapat dibanggakan oleh sekolah ini”.
Dan untuk pertama kalinya, dengan bahasa tersendat-sendat Alpha mampu mengeluarkan kalimat dari mulutnya. “Terimakasih bu, jika bukan karena Ibu, mungkin aku takkan terlihat selamanya,” ujarnya dengan wajah polos, penuh rasa terimakasih.
Sejak saat itu, semua penilaian tentang Alpha berubah dratis dari Alpha yang semula suka membolos, pemberontak, atau seoarang siswa yang gemar melanggar peraturan sekolah bahkan seseorang yang tidak pantas berada di sekolah ini menjelma menjadi sosok seorang siswa yang berbakat, membanggakan serta mampu mengharumkan nama sekolahnya.
Bu Titin bangga padanya, karena ia telah berhasil membuktikan padan semua guru bahwa vonis yang mereka jatuhkan terhadap sosok Alpha adalah salah adanya. Karena ia adalah Alphabeta, seorang anak yang pantas dibanggakan keberadaannya. Dan sebuah nama yang pantas dicatat dalam catatan akhir sekolah. Catatan itu akan bertuiskan, “Alphabeta, dia ada, dia terlihat dan dia pantas...”
(Penulis : Wiwik Musmiati, SMA 1 Kendal)




Sumber :
Majalah pendidikan GANESHA 05. Edisi 7, Nopember 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar